Percetakan Wisuda

Standar Format Tesis S2 di 10 Universitas Besar Indonesia: Persamaan dan Perbedaannya

By ayo wisuda | May 20, 2026

Sebelum mahasiswa S2 menyentuh kalimat pertama bab pendahuluan, ada satu dokumen yang seharusnya sudah dibuka lebih dulu: pedoman penulisan tesis dari kampus masing-masing. Kenyataannya, pedoman itu sering baru dibaca di minggu-minggu terakhir — saat draft sudah ratusan halaman dan revisi dari dosen pembimbing tinggal final.

Di sinilah masalahnya muncul. Standar format tesis di universitas Indonesia tidak seragam. Setiap kampus punya parameter sendiri. Ada yang ketat sampai ke ukuran margin dan jenis font. Ada yang fleksibel di permukaan tapi punya ketentuan teknis spesifik di bagian sitasi. Ada juga yang menyerahkan sebagian aturan ke fakultas atau program studi — sehingga dua mahasiswa di kampus yang sama bisa punya format yang berbeda.

Artikel ini membandingkan pedoman dari sepuluh universitas besar di Indonesia: UI, UGM, ITB, UNAIR, IPB, UNDIP, UB, USU, UNPAD, dan UNS. Tujuannya bukan menilai mana yang paling baik — melainkan memetakan persamaan dan perbedaan yang sering jadi titik revisi format menjelang sidang.

Yang Akan Kamu Dapatkan dari Artikel Ini

  • Pemahaman tentang elemen format tesis yang berlaku universal di hampir semua kampus
  • Ringkasan standar dari 10 universitas besar Indonesia
  • Daftar perbedaan teknis yang paling sering jadi titik revisi
  • Catatan tentang variasi sitasi antar disiplin ilmu — yang sering tidak disadari mahasiswa
  • Checklist praktis untuk memeriksa kesesuaian format dengan pedoman kampusmu

Mengapa Format Tesis Berbeda di Setiap Kampus

Pedoman penulisan tesis di Indonesia umumnya disusun di tingkat universitas atau sekolah pascasarjana, lalu diturunkan ke fakultas dan program studi. Beberapa kampus seperti UGM dan UI mempublikasikan pedoman pascasarjana yang seragam untuk semua program. Kampus lain seperti UNDIP dan UB membiarkan fakultas mengembangkan pedoman teknis sendiri di atas kerangka universitas.

Akibatnya, format tesis di Indonesia adalah lapisan tiga tingkat: aturan universitas, aturan fakultas/program studi, dan arahan dosen pembimbing. Tiga lapisan ini tidak selalu kompak. Kadang ada perbedaan kecil antara apa yang tertulis di pedoman pascasarjana dan apa yang diminta dosen pembimbing saat bimbingan.

Konteks ini penting dipahami sebelum kita masuk ke perbandingan teknis. Pedoman kampus adalah acuan formal, tapi keputusan akhir di lapangan sering ditentukan oleh arahan dosen pembimbing — terutama untuk hal-hal seperti gaya penulisan, kedalaman kutipan, dan pilihan sistem sitasi.

Tujuh Elemen Format yang Selalu Ada di Semua Pedoman

Meski detailnya berbeda, ada tujuh elemen yang dapat ditemukan di hampir semua pedoman tesis pascasarjana di Indonesia:

  1. Ukuran kertas dan margin. Hampir semua pedoman memakai A4 80 gsm dengan margin yang berbeda untuk sisi kiri (untuk penjilidan) dan tiga sisi lainnya.
  2. Jenis dan ukuran font. Times New Roman 12 pt adalah default mayoritas; beberapa fakultas teknik membolehkan Arial atau font sans-serif lain.
  3. Spasi baris. Umumnya 1,5 atau 2 untuk teks utama; kutipan langsung panjang dan catatan kaki biasanya 1 spasi.
  4. Penomoran halaman. Angka Romawi kecil untuk bagian awal (sampul dalam, lembar persetujuan, kata pengantar, daftar isi), angka Arab untuk bab pendahuluan dan seterusnya.
  5. Hierarki heading. Bab, subbab, dan sub-subbab dengan penomoran yang konsisten — misalnya 1.1, 1.1.1.
  6. Daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar lampiran. Semua wajib ada, semua wajib otomatis terhubung dengan caption dan heading.
  7. Format sitasi dan daftar pustaka. Bervariasi antar disiplin (APA, Harvard, IEEE, Vancouver), tapi prinsipnya sama: setiap kutipan di teks harus muncul di daftar pustaka, dan sebaliknya.

Ketujuh elemen ini adalah kerangka. Yang membedakan kampus satu dengan lainnya adalah parameter dalam masing-masing elemen.

Standar Format Tesis di 10 Universitas: Ringkasan Per Kampus

Ringkasan berikut disusun dari pedoman publik yang dipublikasikan masing-masing sekolah pascasarjana atau program pascasarjana. Karena pedoman bisa berubah dari tahun ke tahun, kamu wajib memverifikasi versi terbaru dari kampusmu sendiri sebelum mengambil keputusan format.

Universitas Indonesia (UI)

UI menerbitkan SK Rektor tentang Pedoman Teknis Penulisan Tugas Akhir Mahasiswa yang berlaku lintas fakultas. Format umum: A4, margin kiri 4 cm dan tiga sisi lainnya 3 cm, Times New Roman 12 pt, spasi 1,5. Sistem sitasi mengikuti gaya yang berlaku di program studi — APA umumnya untuk sosial-humaniora, Vancouver untuk kedokteran.

Universitas Gadjah Mada (UGM)

UGM punya pedoman pascasarjana yang relatif seragam, dengan turunan per fakultas. Margin standar 4-3-3-3 cm, Times New Roman 12 pt, spasi 2 untuk teks utama. Banyak program di UGM merekomendasikan Mendeley atau Zotero untuk manajemen referensi.

Institut Teknologi Bandung (ITB)

ITB sering memakai template LaTeX yang disediakan Sekolah Pascasarjana, terutama untuk program teknik dan sains. Format sitasi umum: IEEE atau Vancouver untuk teknik dan sains, APA untuk Sekolah Bisnis dan Manajemen. Margin dan spasi mengikuti template.

Universitas Airlangga (UNAIR)

UNAIR menerbitkan pedoman penulisan tesis dari Sekolah Pascasarjana yang diturunkan ke fakultas. Format dasar mirip UGM: A4, margin 4-3-3-3 cm, Times New Roman 12 pt. Untuk Fakultas Kedokteran dan ilmu kesehatan, sitasi Vancouver sangat umum.

Institut Pertanian Bogor (IPB)

IPB punya tradisi format yang ketat untuk tesis, terutama dalam penyajian data dan tabel. Pedoman pascasarjana IPB merekomendasikan format APA untuk sebagian besar program. Margin standar dan spasi 2 untuk teks utama.

Universitas Diponegoro (UNDIP)

UNDIP membiarkan fakultas mengembangkan pedoman teknis di atas kerangka universitas. Banyak fakultas masih memakai standar Times New Roman 12 pt, margin 4-3-3-3 cm. Variasi paling sering muncul di sistem sitasi dan format daftar pustaka.

Universitas Brawijaya (UB)

UB juga menyerahkan banyak detail ke fakultas dan program studi. Beberapa program di UB punya pedoman tesis sendiri dengan template Word resmi yang harus diikuti. Format sitasi mengikuti tradisi disiplin masing-masing.

Universitas Sumatera Utara (USU)

USU menerbitkan pedoman dari Sekolah Pascasarjana dengan format yang relatif konsisten antar program: A4, margin 4-3-3-3 cm, Times New Roman 12 pt, spasi 2. Sistem sitasi bervariasi sesuai disiplin.

Universitas Padjadjaran (UNPAD)

UNPAD menggabungkan pedoman pascasarjana dengan pedoman per program studi. Format dasar serupa kampus besar lain. Untuk program kedokteran dan kesehatan masyarakat, Vancouver dominan.

Universitas Sebelas Maret (UNS)

UNS punya pedoman pascasarjana yang dapat diakses publik di laman pascasarjana. Standar format mengikuti pola umum kampus besar Indonesia, dengan beberapa program memberikan template Word resmi.

Semua ringkasan di atas adalah gambaran umum. Versi pedoman terbaru, beserta lampiran teknis seperti format halaman sampul, lembar persetujuan, dan abstrak, harus dirujuk langsung ke laman resmi kampus masing-masing sebelum kamu memutuskan format akhir.

Standar Format Tesis S2 di 10 Universitas Besar Indonesia: Persamaan dan Perbedaannya

Perbedaan Margin, Spasi, dan Font: Detail yang Sering Bikin Revisi

Tiga parameter ini terlihat sederhana, tapi inilah area di mana revisi paling sering muncul saat dosen pembimbing atau penguji memeriksa draft.

Margin. Mayoritas kampus mengikuti pola "kiri lebih besar". Yang umum: kiri 4 cm, atas-kanan-bawah 3 cm. Tapi ada juga yang minta kiri 4 cm, atas 4 cm, kanan 3 cm, bawah 3 cm. Selisih satu sentimeter di sisi atas bisa membuat seluruh layout bergeser dan daftar isi otomatis tidak lagi cocok dengan halaman aktual.

Spasi. Spasi 1,5 dan spasi 2 menghasilkan ketebalan dokumen yang sangat berbeda untuk tesis 200 halaman. Pedoman beberapa kampus juga membedakan spasi untuk teks utama, kutipan langsung panjang, daftar pustaka, dan caption tabel/gambar. Inkonsistensi di area ini cepat ditangkap penguji.

Font. Times New Roman 12 pt adalah standar de facto. Beberapa fakultas teknik membolehkan Arial atau Helvetica. Yang sering jadi masalah bukan pilihan font itu sendiri, tapi inkonsistensinya: caption pakai font berbeda dengan teks utama, atau tabel yang di-copy dari Excel masih membawa font Calibri tanpa disadari.

Sistem Penomoran Halaman dan Section Break: Titik Paling Rentan Error

Hampir semua tesis di Indonesia mengikuti pola dua sistem penomoran: angka Romawi kecil (i, ii, iii) untuk bagian awal, dan angka Arab (1, 2, 3) mulai dari Bab I Pendahuluan. Yang membuat ini rumit adalah teknis Word-nya.

Untuk berpindah dari Romawi ke Arab dalam satu file, dokumen harus dibagi dengan section break — bukan page break biasa. Banyak draft yang masuk dengan masalah ini: bagian awal dan bab isi disambung dengan page break, sehingga ketika nomor halaman mau diubah formatnya, semua nomor ikut berubah.

Pola ini berulang. Termasuk pada dokumen yang dikonversi dari PDF ke Word — file hasil konversi sering kehilangan section break dan menggantinya dengan rangkaian halaman manual. Layout-nya kelihatan benar di permukaan, tapi struktur internalnya rusak. File PDF yang dikonversi ke Word itu ibarat foto yang dipaksakan jadi peta — bentuknya mirip, tapi tidak bisa dipakai navigasi. Daftar isi otomatis tidak akan terbaca dengan benar pada file seperti ini.

Pada dokumen panjang berisi 150–400 halaman, pengaturan section break, header/footer per bab, penomoran berbeda untuk halaman portrait dan landscape, serta hierarki heading yang konsisten adalah pekerjaan teknis yang menuntut ketelitian. Inilah salah satu area yang Percetakan Wisuda kerjakan sehari-hari pada layanan merapikan tesis untuk berbagai kampus, dengan dua acuan utama: pedoman format kampus dan arahan dosen pembimbing.

Format Sitasi dan Daftar Pustaka: Variasi Antar Disiplin Ilmu

Kalau ada satu area di mana perbedaan paling tajam muncul — bukan antar kampus, tapi antar disiplin ilmu — itu adalah sistem sitasi.

  • APA (American Psychological Association) dominan di ilmu sosial, pendidikan, psikologi, ekonomi, dan banyak program manajemen.
  • Harvard umum di humaniora dan beberapa program ilmu sosial.
  • IEEE standar untuk teknik elektro, informatika, dan ilmu komputer.
  • Vancouver dominan di kedokteran, kesehatan masyarakat, dan ilmu hayati klinis.
  • Chicago/Turabian masih dipakai di sebagian humaniora dan teologi.

Yang sering tidak disadari mahasiswa: sistem sitasi tidak ditentukan oleh kampus, tapi oleh disiplin ilmu. Dua mahasiswa di kampus yang sama, dari fakultas berbeda, bisa pakai sistem sitasi yang berbeda — dan keduanya sama-sama benar menurut pedoman kampusnya.

Dan itu bukan hal kecil. File konversi dari PDF ke Word, atau dokumen yang sudah dipindahtangankan beberapa kali via WhatsApp atau Google Drive, sering membawa karakter tersembunyi yang merusak daftar pustaka otomatis Mendeley atau Zotero. Referensi tampak benar di permukaan, tapi tidak terhubung lagi dengan sistem sitasi di teks. Saat kamu menambah satu referensi baru, urutan abjad daftar pustaka jadi kacau tanpa kelihatan kenapa.

5 Hal yang Sering Membuat Format Tesis Kacau di Detik-Detik Akhir

  1. Section break terhapus saat draft di-copy ke template kampus
  2. Daftar isi otomatis tidak terhubung lagi karena heading dipakai sebagai bold biasa, bukan heading style
  3. Caption tabel atau gambar dibuat manual, sehingga daftar tabel/gambar tidak bisa di-update
  4. Mendeley/Zotero kehilangan koneksi setelah file dipindah komputer atau dikirim via WhatsApp
  5. Halaman landscape (untuk tabel besar) tidak diatur sebagai section terpisah, sehingga header/footer ikut berputar

Kapan Pedoman Kampus Bertabrakan dengan Arahan Dosen Pembimbing

Ini situasi yang lebih sering terjadi daripada yang diakui mahasiswa. Pedoman pascasarjana minta gaya sitasi A, dosen pembimbing minta gaya B. Pedoman minta margin 4-3-3-3, dosen minta seragam 3 cm di semua sisi karena lebih enak dibaca saat di-print.

Aturan tidak tertulis yang berlaku di hampir semua kampus: arahan dosen pembimbing dimenangkan, kecuali bertentangan dengan ketentuan administratif yang akan diperiksa staf akademik (misalnya format sampul atau halaman pengesahan). Karena itu, sebelum mengirim file untuk dirapikan, pastikan ada satu versi pedoman yang sudah disepakati dengan dosen pembimbing. Mengerjakan format dua kali — sekali ikut pedoman, sekali ikut arahan dosen — adalah pekerjaan yang paling mudah dihindari hanya dengan satu pesan WhatsApp ke pembimbing.

Kalau kamu masih membangun draft dari nol atau menyatukan beberapa potongan dari mata kuliah berbeda, panduan merapikan tesis dari draft sampai siap diajukan bisa membantumu menyusun urutan kerja yang masuk akal — mulai dari menyamakan style heading, menyatukan margin, sampai memeriksa konsistensi referensi. Untuk konteks lebih rinci tentang konsistensi antar bab dan integrasi referensi, bisa dilanjutkan ke Panduan Lengkap Format Tesis S2: Standar Akademik, Konsistensi Antar Bab, dan Integrasi Referensi.

Checklist Praktis: Cek Pedoman Kampusmu Sebelum Finalisasi

Gunakan daftar ini sebelum mengirim draft ke dosen atau mengunggah ke sistem akademik:

  • Sudah unduh dan baca pedoman penulisan tesis versi terbaru dari sekolah pascasarjana atau program studi
  • Sudah konfirmasi dengan dosen pembimbing jika ada perbedaan antara pedoman dan arahan beliau
  • Sudah cek margin, font, dan spasi sesuai pedoman — bukan sekadar "kelihatan rapi"
  • Sudah pastikan sistem sitasi (APA/Harvard/IEEE/Vancouver) sesuai disiplin ilmu dan permintaan dosen pembimbing
  • Sudah cek konsistensi heading style — bukan bold manual, tapi heading style Word
  • Sudah verifikasi daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran ter-update otomatis

Untuk panduan lebih komprehensif tentang seluruh tahapan persiapan dokumen sebelum bimbingan akhir, baca juga Panduan Lengkap Merapikan Tesis dari Draft sampai Siap bimbingan dosen.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Muncul tentang Standar Format Tesis

Apakah pedoman tesis berbeda antara satu fakultas dan fakultas lain di kampus yang sama?

Bisa berbeda dalam detail teknis, terutama format sitasi dan beberapa elemen tata letak khusus seperti format penyajian gambar atau data. Kerangka utama (margin, font, spasi, sistem penomoran halaman) biasanya seragam di tingkat universitas atau sekolah pascasarjana. Selalu cek pedoman fakultasmu setelah membaca pedoman universitas.

Bagaimana kalau pedoman kampus dan dosen pembimbing memberi arahan berbeda?

Untuk hal yang akan diperiksa staf akademik (sampul, halaman pengesahan, abstrak), ikuti pedoman kampus secara ketat. Untuk hal teknis seperti gaya penulisan, kedalaman kutipan, atau pilihan sistem sitasi yang tidak diatur ketat, arahan dosen pembimbing umumnya dimenangkan. Selalu konfirmasi sebelum finalisasi agar tidak mengerjakan dua kali.

Apakah Times New Roman 12 pt wajib di semua kampus?

Tidak wajib secara absolut, tapi adalah standar de facto di pedoman pascasarjana mayoritas universitas Indonesia. Beberapa fakultas teknik dan sains membolehkan Arial atau font sans-serif lain. Yang lebih penting daripada pilihan font: konsistensinya di seluruh dokumen, termasuk caption, isi tabel, dan daftar pustaka.

Apakah harus pakai Mendeley atau Zotero untuk manajemen referensi?

Tidak wajib, tapi sangat direkomendasikan untuk dokumen 150 halaman ke atas dengan ratusan referensi. Penggunaan reference manager mengurangi risiko inkonsistensi antara kutipan di teks dan daftar pustaka. Apa pun yang dipilih, pastikan sistem sitasi yang dipakai sesuai disiplin ilmu dan pedoman kampus.

Kesimpulan

Standar format tesis di sepuluh universitas besar Indonesia memiliki kerangka yang mirip — margin, font, spasi, sistem penomoran, hierarki heading, dan daftar pustaka — tapi parameter detailnya berbeda di setiap kampus dan setiap disiplin ilmu. Kuncinya bukan menghafal semua perbedaan, melainkan memverifikasi versi terbaru pedoman dari kampusmu sendiri dan menyelaraskannya dengan arahan dosen pembimbing.

Format yang rapi bukan sekadar urusan estetika. Ia adalah sinyal bahwa kamu serius dengan pekerjaan akademikmu — dan penguji, sadar atau tidak, membaca sinyal itu sebelum membaca satu kalimat pun dari bab pertama. Untuk pekerjaan teknis merapikan struktur dokumen panjang sesuai pedoman kampus, Percetakan Wisuda sudah berpengalaman lebih dari 20 tahun sejak 2004 — dengan acuan kerja yang konsisten: pedoman format kampus dan arahan dosen pembimbing.

Kampusmu tidak ada di daftar? Kirim pedoman kampusmu — kami berpengalaman dengan berbagai format.